Minggu, 09 Juni 2013

Makalah Layanan Pendidikan dan Rehabilitasi Penyandang Gangguan Perlihatan yang disertai dengan ketunagandaan

 ORTOPEDAGOGIK GANGGUAN PENGLIHATAN
 Layanan pendidikan dan rehabilitasi bagi penyandang gangguan penglihatan yag disertai gangguan lainnya

hhh.jpg
Oleh :

Ardila Prasetyo
Arise
Doni Pratama
Ridwan Bin Syafrial
Riza Febriyanti

PENDIDIKAN LUAR BIASA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGRI PADANG

2013




KATA PENGANTAR

Pertama dan yang utama, penulis memanjatkan puji dan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Karena berkat rahmat dan karunia-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah yang diambil dari salah satu materi perkuliahan ortopedagogik gangguan penglihatan.

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu  tugas mata kuliah ortopedagogik gangguan penglihatan. Penulis menyadari makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena memiliki banyak kekurangan baik dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisan. Oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan  kritik dan saran yang menbangun demi kesempurnaan laporan ini. Akhir kata, semoga laporan ini bisa memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca.

                                   
                                                                                                           
                                                                                                           



                                                                                   
                                                                                                            Padang , 24 April 2013


                                                                                                               Penulis,
                                                                                                                       
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.................................................................................................................... ..1
Daftar Isi............................................................................................................................... ..2

BAB I PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang............................................................................................................3
1.2    Tujuan.........................................................................................................................3
1.3    Rumusan Masalah......................................................................................................3

BAB II PEMBAHASA
2.1 Pelayanan pendidikan gangguan penglihatan yang disertai gangguan pendengaran.................................................................................................................5
2.2 Pelayanan pendidikan gangguan penglihatan yang disertai gangguan        intelektual...................................................................................................................7
2.3 Pelayanan pendidikan gangguan penglihatan yang disertai gangguan fisik  dan        motorik........................................................................................................................8
2.4 Pelayanan pendidikan gangguan penglihatan yang disertai gangguan autistik...........10

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................................................12
3.2 Kritik dan Saran.........................................................................................................12

Daftar Pustaka....................................................................................................................  13




BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
         
          Pendidikan sangatlah penting, baik itu pendidikan bagi anak normal maupun pendidikan bagi anak dengan berkebutuhan khusus. Khususnya dalam pembahasan makalah ini yaitu layanan pendidikan bagi anak dengan gangguan penglihatan yang disertai dengan ketunaan lainnya.Oleh karena itu setiap orang wajib mendapatkan layanan pendidikan tanpa terkecuali seperti yang telah diatur dalam UU begitu juga dengan anak tunanetra yang mengalami ketuna gandaan .

1.2  Tujuan

Tujuan dari makalah ini dalah agar kita sebagai calon pendidik nantinya dapat mengetahui bagaimana layanan yang harus kita berikan bagi anak berkebutuhan khusus khususnya anak dengan gangguan pengkihatan yang disertai dengan ketunaan lainnya atau yang disebut dengan tunaganda.

1.2  Rumusan Masalah
           
            Rumusan masalah dari observasi yang kami lakukan adalah bagaimana pelayanan pendidikan yang diberikan kepada anak tunanetra yang memiliki ketunanetraan lainnya.





BAB II
PEMBAHASAN

2.1     Pengertian Ketunagandaan
            Menurut Johnston Tuna ganda adalah mereka yang mempunyai kelainan perkembangan mencakup kelompok yang mempunyai hambatan-hambatan perkembangan neorologis yang disebabkan oleh satu atau dua kombinasi kelainan dalam kemampuan seperti intelegensi, gerak, bahasa atau hubungan pribadi di masyarakat.
Departemen Pendidikan Amerika Serikat memberikan pengertian anak-anak yang tergolong tunaganda adalah anak-anak yang karena mempunyai masalah-masalah jasmani, mental atau emosional yang sangat berat atau kombinasi dari beberapa masalah tersebut, sehingga agar potensi mereka dapat berkembang secara maksimal memerlukan pelayanan pendidikan sosial, psikology dan medis yang melebihi pelayanan program pendidikan luar biasa secara umum. 
Jadi, tunaganda adalah anak yang memiliki kombinasi kelainan (baik dua jenis kelainan atau lebih) yang menyebabkan adanya masalah pendidikan yang serius ,sehingga dia tidak hanya dapat diatas dengan suatu program pendidikan khusus untuk satu kelainan saja, melaiankan harus didekati dengan variasi program pendidikan sesuai kelainan yang dimiliki.

Anak tunaganda biasanya menunjukkan fenomena-fenomena perlaku di antaranya :
1. Kurang komunikasi atau sama sekali tidak dapat berkomunikasi.

2. Perkembangan motorik dan fisiknya terlambat.
3. Seringkali menunjukkan perilaku yang aneh dan tidak bertujuan.
4. Kurang dalam keterampilan menolong diri sendiri.
5. Jarang berperilaku dan berinteraksi yang sifatnya konstruktif.
6. Kecenderungan lupa akan keterampilan keterampilan yang sudah dikuasai.
7. Memiliki masalah dalam mengeneralisasikan keterampilan keterampialan dari suatu situasi ke situasi lainnya.






2.2     Pelayanan pendidikan gangguan penglihatan yang disertai gangguan           pendengaran
            Anak buta-tuli adalah seorang anak yang memiliki gangguan penglihatan dan pendengaran, suatu gabungan yang menyebabkan problema komunikasi dan problema perkembangan pendidikan lainnya yang berat sehingga tidak dapat diberikan program pelayanan pendidikan baik di sekolah yang melayani untuk anak-anak tuli maupun di sekolah yang melayani untuk anak-anak buta. Namun demikian, bukan berarti anak buta-tuli harus dirampas haknya untuk mendapatkan layan pendidikan. Dengan penangan yang baik dan tepat, anak-anak buta-tuli masih bisa dididik dan berhasil. Anak-anak yang tergolong tunaganda seringkali memiliki kombinasi-kombinasi ketidakmampuan yang tampak nyata maupun yang tidak begitu nyata dan keduanya memerlukan penambahan-penambahan atau penyesuaian-penyesuaian khusus dalam pendidikan mereka. Melalui program pengajaran yang sesuaiakan memungkinkan mereka dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang berguna, bermakna, dan memuaskan pribadinya.
             Kelainan Utama tunanetra yang mengalami ketunarunguan adalah dua kelainan utama itu yang menyebabkan anak mengalami gangguan, maka dalam memberikan pelayanan pendidikan, indra yang masih baik kondisinya memperoleh perhatian utama untuk difungsikan yaitu indra peraba atau tangan. Bagi anak seperti ini, maka saluran penglihatan digunakan untuk membentuk sistem komunikasi berdasarkan isyarat ejaan jari yang diletakkan pada telapak tangan anak. Anak buta-tuli adalah seorang anak yang memiliki gangguan penglihatan dan pendengaran, suatu gabungan yang menyebabkan problema komunikasi dan problema perkembangan pendidikan lainnya yang berat sehingga tidak dapat diberikan program pelayanan pendidikan baik di sekolah yang melayani untuk anak-anak tuli maupun di sekolah yang melayani untuk anak-anak buta. Namun demikian, bukan berarti anak buta-tuli harus dirampas haknya untuk mendapatkan layan pendidikan. Dengan penangan yang baik dan tepat, anak-anak buta-tuli masih bisa dididik dan berhasil. Anak-anak yang tergolong tunaganda seringkali memiliki kombinasi-kombinasi ketidakmampuan yang tampak nyata maupun yang tidak begitu nyata dan keduanya memerlukan penambahan-penambahan atau penyesuaian-penyesuaian khusus dalam pendidikan mereka. Melalui program pengajaran yang sesuaiakan memungkinkan mereka dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang berguna, bermakna, dan memuaskan pribadinya.

Layanan pendidikan dan rehabilitasi yang diberikan adalah :
1.      Memberikan layanan komunikasi , agar anak dengan gangguan ini setidaknya mampu   untuk berkomunikasi dengan orang yang ada di lingkungan sekitarnya . Komunikasi ini bisa dilakukan dengan bahasa isyarat yang diejakan di telapak tangan tunanetra-tuli.
2.      Alat pendidikan bagi tunanetra terdiri dari : Alat pendidikan khusus, alat Bantu peraga dan alat peraga.

a. Alat Pendidikan Khusus :Reglet dan pena,Mesin tik Baille,Printer Braille,abacus
b. Alat Bantu
               Alat bantu perabaan (buku-buku, air panas/dingin, batu, dsb)
               Alat Bantu pendengaran (kaset, CD, talkingbooks) 
c. Alat Peraga
Alat peraga tactual atau audio yaitu alat peraga yang dapat diamati melalui perabaan.(patung hewan, patung tubuh manusia , peta timbul)

3.      Layanan Pendidikan



1. Jenjang Pendidikan dan lama pendidikan :
a. TKKh/TKLB : 3 tahun
b. SDKh/SDLB : 6 tahun
c. SMPKh/SMPLB : 3 tahun
d. SMAKh/SMALB : 3 tahun



2. Model Pendidikan
a. Pendidikan Khusus (SLB)
Pendidikan Khusus (SLB) adalah lembaga pendidikan yang menyeleng-garakan program pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
b. Guru Kunjung
Model guru kunjung dilakukan dalam upaya pemerataan pendidikan bagi anak tunanetra usia sekolah. Model ini diberlakukan dalam hal anak tunanetra tidak dapat belajar di sekolah khusus atau sekolah lainnya karena tempat tinggal yang sulit dijangkau, jarak sekolah dan rumah terlalu jauh, kondisi anak tunanetra yang tidak memungkinkan untuk berjalan, menderita berkepanjuangan , dan lain-lain.




2.3     Pelayanan pendidikan gangguan penglihatan yang disertai gangguan           intelektual
Pendekatan layanan pendidikan bagi anak tunagrahita-tunanetra lebih diarahkan pada pendekatan individual dan pendekatan remediatif . Pendekatan individual  didasarkan pada assesment kemampuan untuk mengembangkan sisa potensi yang ada dalam dirinya. Tujuan utama layanan pendidikan bagi anak tunagrahita adalah penguasaan kemampuan aktivitas kehidupan sehari-hari dalam mengelola diri sendiri. Untuk mencapai itu perlu pembelajaran mengurus diri sendiri dan pengembangan keterampilan vocational terbatas sesuai kemampuannnya.
Layanan pendidikan khusus bagi anak tunagrahita meliputi latihan sensomotorik, terapi bermain dan okupasi, dan latihan mengurus diri sendiri. Pendekatan pembelajaran dilakukan secara individual dan remediatif. Perkembangan kemampuan anak berdasarkan tingkat kemampuan kognitifnya. Anak yang ber IQ 55 - 70   berbeda dengan yang ber IQ 35 – 55. Sehingga dalam sebaran IQ tersebut juga  berbeda dalam layanan masing-masing.

Pelayanan pendidikan bagi anak tunagrahita/retadasi mental dapat diberikan pada:
1.      Sekolah Khusus
Layanan pendidikan untuk anak tunagrahita-tunanetra model ini diberikan pada Sekolah Luar Biasa. Dalam satu kelas maksimal 10 anak dengan pembimbing/pengajar guru khusus dan teman sekelas yang dianggap sama keampuannya (tunagrahita). Kegiatan belajar mengajar sepanjang hari penuh di kelas khusus.

2.         Program sekolah di rumah
Progam ini diperuntukkan bagi anak tunagrahita-tunanetra yang tidak mampu mengkuti pendidikan di sekolah khusus karena keterbatasannya, misalnya: sakit. Proram dilaksanakan di rumah dengan cara mendatangkan guru PLB (GPK) atau terapis. Hal ini dilaksanakan atas kerjasama antara orangtua, sekolah, dan masyarakat.



3.      Panti (Griya) Rehabilitasi
Panti ini diperuntukkan bagi anak tunagrahita pada tingkat berat, yang mempunyai kemampuan pada tingkat sangat rendah, dan pada umumnya memiliki kelainan ganda seperti penglihatan, pendengaran, atau motorik. Program di panti lebih terfokus pada perawatan. Pengembangan dalam panti ini terbatas dalam hal :
a.    Pengenalan diri
b.    Sensorimotor dan persepsi
c.    Motorik kasar dan ambulasi (pindah dari satu temapt ke tempat lain)
d.    Kemampuan berbahasa dan dan komunikasi
e.    Bina diri dan kemampuan sosial

2.4     Pelayanan pendidikan gangguan penglihatan yang disertai gangguan          fisik dan motorik
Layanan pendidikan yang spesifik bagi anak tunadaksa-tunanetra adalah pada bina gerak. Untuk memberikan layanan bina gerak yang tepat diperlukan dukungan terapi, khususnya fisioterapi untuk memulihkan kondisi otot dan tulang anak agar tidak semakin menurun kemampuannnya. Selain itu dukungan untuk bina diri diperlukan terapi okupasi dan bermain. layanan pendidikan bagi anak tunadaksa perlu memperhatikan tiga hal, yaitu :
a. Pendekatan multidisipliner dalam program rehabilitasi anak tunadaksa
b. Program pendidikan sekolah
c. Layanan bimbingan dan konseling




Pelayanan pendidikan bagi anak tunadaksa-tunanetra diberikan pada:
1.      Sekolah Luar Biasa (SLB)
Bentuk Sekolah Luar Biasa merupakan bentuk sekolah yang paling tua. Bentuk SLB merupakan bentuk unit pendidikan. Artinya, penyelenggaraan sekolah mulai dari tingkat persiapan sampai dengan tingkat lanjutan diselenggarakan dalam satu unit sekolah dengan satu kepala sekolah.
2.       Sekolah Luar Biasa Berasrama
Sekolah Luar Biasa Berasrama merupakan bentuk sekolah luar biasa yang dilengkapi dengan fasilitas asrama. Peserta didik SLB berasrama tinggal diasrama. Pengelolaan asrama menjadi satu kesatuan dengan pengelolaan sekolah, sehingga di SLB tersebut ada tingkat persiapan, tingkat dasar, dan tingkat lanjut, serta unit asrama. Bentuk satuan pendidikannyapun juga sama dengan bentuk SLB di atas, sehingga ada SLB-A untuk anak tunanetra, SLB-B untuk anak tunarungu, SLB-C untuk anak tunagrahita, SLB-D untuk anak tunadaksa, dan SLB-E untuk anak tunalaras, serta SLB-AB untuk anak tunanetra dan tunarungu.
Pada SLB berasrama, terdapat kesinambungan program pembelajaran antara yang ada di sekolah dengan di asrama, sehingga asrama merupakan tempat pembinaan setelah anak di sekolah. Selain itu, SLB berasrama merupakan pilihan sekolah yang sesuai bagi peserta didik yang berasal dari luar daerah, karena mereka terbatas fasilitas antar jemput.

3.   Fasilitas pendukung pendidikan yang berkaitan dengan diri anak adalah :
a.    Brace
Brace merupakan alat bantu gerak yang digunakan untuk memperkuat otot dan tulang. Biasanya digunakan di kaki, punggung atau dileher. Fungsim brace berguna untuk menyangga beban yang tertumpu pada otot atau tulang.
b.    Crutch
Kruk adalah alat penyangga tubuh yang ditumpukkan pada tangan atau ketiak untuk menyangga beban tubuh.
c.    Splint
Splint adalah alat untuk meletakkan anggota tubuh pada posisi yang benar agar anggota tubuh yang sakit tidak salah bentuk.
d.   Whell chair
Menurut bentuknya kursi roda dapat dibedakan menjadi dua, yaitu  kursi roda yang roda besarnya di depan dan kursi roda yang roda besarnya di belakang. Kursi roda yang roda besarnnya di depan dapat berputar di tempat yang sempit. Kursi roda yang roda besarnya di belakang dapat masuk ke kolong tempat tidur, sehingga memudahkan untuk berpindah tempat.
Selain fasilitas pendukung tersebut di atas, fasilitas lain yang mendukung pendidikan untuk anak tunadaksa adalah ruangan terapi dan peralatan terapi. Terapi yang berkaitan langsung dengan anak tunadaksa adalah fisioterapi terapi bermain, dan terapi okupasi.


BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan

            Meskipun memeliki berbagai macam keterbatasan-keterbatasan dalam mengekspresikan kemampuannya, anak-anak tunaganda tetap dapat diberikan proses belajar mengajar sehingga mereka tetap tidak kehilangan haknya untuk mendapatkan layanan pendidikan seiring dengan program “education for all”. Tes inteligensi tradisional kurang manfaatnya untuk mengukur anak tunaganda. Untuk itu, para guru perlu mengamati kemampuan-kemampuan yang unik serta keterbatasan-keterbatasan yang diperlihatkan oleh anak-anak tunaganda. Walaupun setiap anak memperlihatkan karakteristik individual yang berkaitan dengan fisik, intelektual dan social, anak-anak tunaganda seringkali memperlihatkan perilaku seperti: sedikit atau tidak dapat berkomunikasi, terbelakang dalam perkembangan fisik dan motoriknya, sering berprilaku yang tidak tepat, kurang dalam ketrampilan menolong diri sendiri dan jarang berprilaku atau berinteraksi yang sifatnya konstrutif. Walaupun terdapat banyak kemungkinan kombinasi kecacatan yang berbeda-beda, kondisi-kondisi kecacatan majemuk sudah dikenal oleh para pendidik, seperti kombinasi antara tunagrahita dengan gangguan pendengaran, antara tunagrahita dengan masalah perilaku yang berat, autisme, antara gangguan perilaku dengan gangguan pendengaran dan kombinasi antara ketulian dan kebutaan. Untuk mengatasi masalah anak tunaganda diperlukan tindakan menggunakan pendekatan multidisipliner. 

3.2Kritik dan Saran

            Dengan ditulisnya makalah ini semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan bagi yang membutuhkan makalah ini.





DAFTAR PUSTAKA


























Minggu, 19 Mei 2013

Makalah Fungsi Luhur


DAFTAR ISI


Daftar Isi.........................................................................................................     1
Kata Pengantar................................................................................................    2

BAB I PENDAHULUAN
1.1            Latar Belakang...........................................................................       3
1.2            Rumuasan Masalah....................................................................      3
1.3            Tujuan........................................................................................      3

BAB II PEMBAHASAN
         
          2.1     Pengertian Fungsi Luhur............................................................       4
          2.2     Pembagian Fungsi Luhur  .........................................................       4
2.3     Gangguan Fungsi Luhur ...........................................................        8

BAB III PENUTUP
          3.1     Kesimpulan  ..............................................................................       11
          3.2     Saran  ........................................................................................      11

Laporan Hasil Diskusi ...................................................................................     12
Daftar Pustaka..................................................................................................  13









KATA PENGANTAR

                Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberi rahmat dan kesehatan kepada kami sehingga kami dapat mendiskusikan dan menyelesaikan makalah dengan judul materi “Fungsi Luhur“ yang diambil dari salah satu materi perkuliahan yaitu  Dasar – Dasar Neurologi.
           
            Didalam makalah ini penulis membahas mengenai fungsi luhur yang merupakan salah satu dari materi perkuliahan dasar – dasar neurologi.
           
            Mudah – mudahan dengan mempelajari materi – materi yang ada dalam makalah ini menambah wawasan pembaca mengenai materi yang di paparkan sebagai salah satu materi pokok dalam mata kuliah Dasar – Dasar Neurologi .     
           
            Penulis juga sangat mengharapkan kritik dan saran pembaca,agar nantinya penulis dapat memperbaiki kesalahan – kesalahan dan kekurangan pada makalah ini.
                                                                             
                                                                            
                                                                            

                                                                            
                                                                                    




                                                                                         Padang , 29 Maret 2013
                                                                                               



                                                                                                                                                                                                                                                                Penulis





BAB II
PEMBAHASAN

1.1    Latar Belakang
            mata kuliah dasar – dasar neurologi kita harus mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengan neurologi atau ilmu yang mempelajari saraf,pengetahuan ini nantinya juga sangat berguna bagi para calon pendidik,terutama untuk pendidikan luar biasa.Karna anak yang terlahir dengan kebutuhan khusus sangat di pengaruhi oleh keaadan neurologi mereka,dan hal tersebutlah yang melatarbelakangi kenapa materi ini wajib untuk di pahami dan di mengerti.Karna nantinya kita akan melihat fakta – fakta di lapangan mengenai anak – anak yang mengalami kebutuhan khusus tersebut,dan kita nantinya juga dapat mengetahui saraf apa terganggu pada tubuh mereka.Untuk mengetahui itu kita perlu mempelajari dan memahami sistem saraf itu sendiri,dan juga bagian – bagian dari saraf itu sendiri serta fungsi masing – masing dari bagian saraf tersebut . Khususnya dalam makalah ini yang akan membahas mengenai salah satu materi dalam mata kuliah dasar – dasar neurologi yaitu mengenai fungsi luhur. Sehingga nantinya ketika kita sebagai pendidik turun kelapangan dan melihat fakta yang terjadi mengenai anak – anak yag mengalami khusus kita tahu,apa yang menyebabkan mereka seperni ini, dan fungsi luhur  apa yag terganggu pada peserta didik kita nantinya.

1.2 Rumusan Masalah

a.    Apa itu fungsi luhur ?
b.    Apa saja pembagian fungsi luhur ?
c.    Gangguan atau kelainan fungsi luhur ?

1.3Tujuan

            Setelah mempelajari materi dalam makalah ini nantinya pembaca dapat mengetahui bapa itu fungsi luhur dan apa fungsi luhur apa yang terganggu sehingga menyebabkan adanya kelaianan dan gangguan pada anak berkebutuhan khusus .           






BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Pengertian Fungsi Luhur
Fungsi luhur ialah otak yang menyebabkan manusia berkomunikasi satu sama lain melalui bicara, menulis, dan gerak isyarat. Yang dimaksud dengan fingsi luhur yaitu:
1.      Fungsi bahasa
2.      Fungsi Persepsi
3.      Fungsi Memori
4.      Fungsi Emosi
5.      Fungsi kognitif
Fungsi luhur dipakai untuk menetapkan diagnosis dan rehabilitasi pasien dengan penyakit otak pada kerusakan otak. Manusia nor,al dapat melakukan gerakan dan tindakan tanpa diajarkan seperti duduk, jongkok, berdiri yang juga dijumpai pada binatang, fungsi-fungsi ini disebut fungsi dasar atau fungsi asor.
Fungsi motorik seperti bicara, menulis, membaca. Mengetik dan mameinkan alat-alat musik atau alat lainnya termasuk fungsi luhur. Dengan kata lain mengerti apa yang ditangkap panca indra, membuat simbol-simbol, membuat dan manjalankan alat-alat terjadi melalui proses belajar. Fungsi-fungsi ini dimungkinkan oleh adanya perkembangan kortex cerebri yang lebih sempurna.

2.2    Pembagian Fungsi Luhur
     Fungsi luhur terdiri dari:
1.    Fungsi Bahasa
           Bahasa merupakan alat komunikasi. Bahasa terdiri dari bahasa verbal (ucapan), bahasa visual (tulisan). Untuk sebagain besar orang, pusat bahasa terletak dibagian hemisfer otak kiri, yang disebut juga sebagai hemisfer dominan.
Tangan kanan              : 95 % pusat bahasa dihemisfer kiri
                                          5 % dihemisfer kanan.
Tangan kiri                  : 70 % pusat bahsa di hemisfer kiri
                                          15 % di hemisfer kanan
                                          15 % di hemisfer bilateral (kanan kiri).

    Secara anatomis ada 3 daerah utama otak untuk fungsi bahasa, yaitu:
a.    Dua daerah reseptif, yaitu:
1)   Area wenicke  merupakan daerah reseptif untuk bahsa yang didengar.
2)   Area garis anggularis merupakan daerah reseptif untuk bahyasa yang dilihat. Seseorang dapat terganggu wicaranya saja atau terganggu bahasa saja. Berbedaannya yaitu gangguan wicara bersifat perifer, disebabkan kelainan saraf perifer, otot, dan struktur yang dipakai bicara. Sedangkan gangguan bahasa sifatnya sentral, disebabkan oleh kelainan kortexs cerebri (fungsi luhur).
b.    Suatu daerah yang berfungsi ekspresif, area brocca untuk bicara.
Hubungan antara area werniceke dan area brocca melalui serabut fasikulus arkuatus. Aspek fektif bahasa meliputi yaitu: inotasi bicara dan emosi ekspresi, pusat bahasa efektif bahasa terdapat pada hemisfer dominan (homologi dengan area wernike dan area brocca, dihemisfer dominan).

Kerusakan pada daerah temporaal non dominan yang homolog dengan area wernike akan terjadi gangguan dalam lagu kalimat. Kerusakan pada daerah brocca akan menjadi dominan yang homolog dengan area brocca akan menjadi gngguan emosi ekspresi dalam bicara. Bila ada kerusakan hemisfer dominan tidak ada kesulitan dalam bahasa non verbal, seperti menggunakan isyarat muka, dan tangan sewaktu bicara.
            Bila ada gangguan hemisfer non dominan masih dapat berbahasa dengan tata bahasa yang benar, tapi tampak berbahasa tanpa lagu kalimat, monoton tanpa penekanan dan tidak mampu menggunakan isyarat muka, dan tangan sewaktu bicara.
Bila ada gangguan pada hemisfer dominan akan terjadi afasia, yaitu:
a.    Ketidakmampuan untuk mengerti bahasa (afasia wernieke-afasia sensorik) seperti berikutr ini:
1)   Tidak mengerti bahasa ucapan maupun bahasa lisan.
2)   Tidak dapoat mengulang kata-kata
3)   Tidak dapat memberi nama benda
4)   Tidak bisa membaca dan menulis
b.    Ketidakmampuan untuk mengeluarkan bahasa (afasia brocca-afasia motorik), seperti:
1)   Berbicara tidak lancar
2)   Kesulitan mengeluarkan kata-kata
3)   Tidak dapat mengulang kata-kata yang didengar
4)   Tidak dapat memberi nama benda walaupun masih mengenal benda tersebut.

            Pengenalan pusat asosiasi dijumpai dalam hipokampus lobus temporal sebagai memori. Apa yang terjadi pada rangkaian di atas untuk kognisi berikut:
1.    Resepsi (penerimaan)
2.    Persepsi (pengenalan)
3.    Storage (penyimpanan)
Misalnya pengenalan pada bunga mawar:
a)    Indra penghidu: bunga itu harum
b)   Indra penglihatan: berwarna merah, putih berdau n, bunga yang banyak tersusun dalam lingkaran.
c)    Indra perabaan: daun bunga terasa timbul dan halus
d)   Emosi: timbul rasa sayang

            Maka kalu kita melihat bunga tersebut  kita menyebutnya bunga mawar. Setelah pengenalan di atas , maka setiap kali kita melihat bunga mawar, timbul asosiasi yang telah kita kenal secara serempak, afasia adalah gangguan fungsi bahasa dan biasanya tanpa gangguan fungsi luhur lainnya seperti gangguan persepsi, memori, emosi, kognitif. Disini  letak perbedaannya dengan dimentia yang mengalami semua gangguan pada fungsi luhur. Afasia dibagi dalam 2 golongan besar, yaitu afasia tak lancar dan afasi lancar. Langkah-langkah penetapan afasia yaitu:
a)    Menentukan bahasa yang dikuasai pasien
b)   Menentukan kecekatan tangan (kanan/kiri)
c)    Menetapkan afasia lancar atau afasia tak lancar
d)   Menetapkan jenis afasia
e)    Menetapkan fungsi-fungsi luhur lainnya ( persepsi, memori, emosi, koognitif).
f)    Menetapkan dengan tes formal (token test, peabody vocabulary test, boston diagnostic aphasia test).
g)   Menetapkan fungsi luhur lainnya dengan formal (test pisikomotorik).

2.      Fungsi Memori
Memori yaitu kemampuan seseorang untuk menyimpan informasi/pengenalan untuk di kemukakan suatu saat. Mekanisme memori terjadi melalui tiga tahap yaitu:
a.    Resepsi
               Informasi diterima dan dicatat oleh pusat otak primer, seperti pengliheten atau perabaan. Penyimpanan sangat singfkat dan bersifat temporer.


b.    Retensi
          Informasi lebih lama dan lebih permanen. Ini disebabkan oleh informasi dan pengalaman terjadi berulang-ulang.
c.    Recall
               Proses mengingat kembali informasi yang disimpan.

Ada tiga bentuk memorial sebagi berikut ini:
a.    Immediate memori
                             Memory ytang berlangsung sangat singkatdan hanya beberapa detik saja, misalnya mengulang kata-kata.
b.    Recent memory
                             Yaitu mempry yang disimpan dalam waktu yang bebrapa menit, jam atau hari.  Mudah dilupakan dan kadang-kadang sukar diingat kembali misalnya mengingatnama orang tua atau nomor telepon.
c.    Remote memory
                             Yaitu yang tidak berakar, sukar dilupakan seperti nama sendiri, nama orang tua, tanggal lahir dan sebagainya.

Struktur anatomi dalam penyimpanan memori adalah:
a.    Pusat otak primer dan aosiasi ialah korteks serebri, beerperan dalam penyimpanan remot memori.
b.    Sub korteks
1)   Hipokampus, bagian lobus temporalis
2)   Sistem linbik
            Berperan dalam penyimpanan rrecen memory

3.      Fungsi Emosi
     Yang termasuk emosi yaitu rasa senang, marah, sedih, takut, kasih sayang, dll. Emosi penting untuk mempertahankan aktivitas yang penting untuk kehidupan individu seperti :
a.    Makan (feeding)
b.    Berkelahi (fight)
c.    Melarikan diri (flight)
d.   Mempertahankan jenis (perkawinan, merawat, dan mengurus anak)

Emosi marah dan takut perlu untk mempertahankan diri. Seeokor binatang, anak, marah bila makanannya direbut oleh binatang lain. Anatomi yang terlihat pada emosi yaitu :
a.    Hipokampus
b.    Fosniks
c.    Korpus mamilare
d.   Nukleus anterior, talamus
e.    Gyrus singuli

2.3    Gangguan Fungsi Luhur
1.    Sindrom lobus prontalis
a.    Kerusakan area 44 (broca) apasia motorik
b.    Kerusakan daerah prefontal (9, 10, 11, 12)
1)   Gangguan tingkah laku
2)   Hilangnya sikap pantas teerhadap sekitarnya
3)   Kurangnya pengendalian diri
4)   Kurang inisiatif dan kreasi
5)   Tabulla (masa bodoh)
6)   Bersenang hati yang tidak sesuai (eforia)
7)   Berkelakar tidak pada tempatnya (witzelsucht)
8)   Menangis, tertawa, yang cepat berantian tanpa perasaan sedih dan gembira.

2.    Sindrom lobus parientalis
a.    Kerusakan pada area 5 dan 7 (pusat asosiasi, perabaan), tidak mengenal perabaan atau agnosia taktil.
b.    Kerusakan pada area 40 (astereo gobsis) yaitu hilangnya kemampuan mengenal dengan sensibilitas taktil, seperti tidak bisa membedakan bentuk, ukuran, dan susunan objek.

3.    Sindrom lobus oksipitalis
a.    Kerusakan pada area 7 (buta central)
b.    Kerusakan pada area 18 dan 19 (dominan korpus kulosum posterior)
c.    Kerusakan pada lobus oksipitalis dominan yaitu agnesia warna etapi tidak sama dengan buta warna
d.   Kerusakan pada bagian inferior lobus oksipitalis temporalis bilateral yaitu tidak mengenal wajah orag yang dikenal tetapi apabia mendengar suaranya aka mengenal orang itu
e.    Kerusakan pada bagian infero lateral lobus okspitalis dominan adalah simul taknosa yaitu tidak mengenal suatu objek secara utuh tetapi mengenal objek itu secara detail.

4.    Sindrom lobus temporalis
a.    Kerusakan pada pusat otak primer area 14 dan 42 yaitu tuli central atau kortikal,
b.    Kerusakan pada area wernike yaitu aphasa sensoris,
c.    Kerusakan pada temporalis kiri yaitu ganggua memori verbal dan agnosia musik.

5.    Narkolepsia
     Penderita dengan penyakit ini adalah orang yang dilanda oleh serangan tidur beberapa kali sehari. Penderita umumnya pria pada usia remaja mudah sampai dewasa dan manula. Penderita narkolepsia pada umumnya mengalami serangan mengantu setelah makan atau karena suasana fisiologik yang mempermudah seseorang tidur.


6.    Insomnia
Insomna terbagi atas beberapa bagian, sebagai berikut :
a.       Insomnia primer
        Umumnya penderita ini tidak mempunyai banyak kesulitan dan tampaknya sehat fal afiat. Seseorang dengan kelhan insomnia ini tidak selalu menunjukkan gejalah-gejalah objektif fenomena ini dapat diiringi oleh tanda-tanda neurologik seperti tremor jari-jari, pitosis ringan, raut muka yang hampa, suara yang bernada rendah, konjung tifa bola mata merah.
b.      Insomnia sekunder psikoneurotik
        Penderita biasana mengalami sakit kepala, pusing, perut kembung dan badan pegal. Lalu penderita ini mempunyai sejenis keluhan insomnia dimana tidurnya terganggu oleh banyak impian yang berlangsung dari saat jatuh tidur sampai bangun tidur pagi hari.
c.       Insomnia sekunder penyakit organik
        Adalah insomnia karna terganggu oleh penyakit organik. Penyakit yang sering mengganggu terlenanya seseorang yang mau tidur ialah penyakit ang diserai nyeri-nyeri pada jari.

7.    Koma
1)   Berdasarkan anatomi dan patofisiologi, koma dibagi menjadi dua, yaitu :
a.    Koma kortikal
                    Merupakan koma atau esefalopati metabolit atau gangguan fungsi lesisruktur korteks bihemisferik. Faktor penyebabnya antara lain sinkop, renjatan, hikoksia.
b.    Koma diensifalit
                    Terjadinya melalui mekanisme herniasi kulkus tentorial atau central. Penyebabnya antara lain: stroke, tumor otak, edemo otak, hidro sepalus, dan menginitis.

2)   Klasifikasi koma berdasarkan gambaran klinik
a.    Koma dengan defisit neurologik fokal
b.    Koma dengan tanda rangsangan meningeal
c.    Koma tanpa defisit neurologik fokal.





BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
      Fungsi luhur ialah otak yang menyebabkan manusia berkomunikasi satu sama lain melalui bicara, menulis, dan gerak isyarat. Pembagian fungsi luhur adalah sebagai berikut :
1.    Fungsi bahasa
2.    Fungsi Persepsi
3.    Fungsi Memori
4.    Fungsi Emosi
5.    Fungsi kognitif

Gangguan yang terdapat dalam fungsi luhur adalah, sebagai berikut :
1.    Sindrom lobus frontalis
2.    Sindrom lobus parientalis
3.    Sindrom lobus oksipitalis
4.    Sindrom lobus temporalis
5.    Narkoplesia
6.    Insomnia
7.    Koma

3.2    Saran
     Dengan ditulisnya makalah ini semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan bagi yang membutuhkan makalah ini.



Daftar Pustaka

M. Mahar. 1971. Neurologi Dasar edisi kedua. Jakarta: PT. Dian Rakyat

Iswari Mega. 2010. Anatomi Fisiologi dan Neorologi Dasar. Padang: UNP Press

Tim Dosen Mata Kuliah Neurologi. 1996. Buku Ajar Neurologi Klinis edisi pertama.         Yogyakarta: Gajah Mada University Press